Refleksi Milad ke-28, PD KAMMI Kota Gorontalo Sentil Dualisme Kepengurusan: Aroma Busuk Nafsu Kekuasaan

oleh -75 Dilihat
banner 468x60

Penulis : Reza Saad (Kabid Kebijakan Publik PD KAMMI Kota Gorontalo) 

Memasuki usia ke-28, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) berdiri di persimpangan jalan sejarah. Di balik perayaan tiga dekade pengabdian sebagai agent of change, muncul sebuah kegelisahan mendalam dari kader-kader di daerah, termasuk Gorontalo, mengenai keutuhan bangunan organisasi yang mulai diuji oleh ego dan polarisasi internal. Aroma busuk nafsu kekuasaan pun mulai nampak dipermukaan.

Menolak Matahari Kembar

Dinamika internal belakangan ini bukan lagi sekadar bumbu organisasi, melainkan ancaman nyata yang bisa melunturkan citra KAMMI sebagai gerakan moral. Munculnya isu dualisme, seperti wacana “dua muktamar” atau klaim kepengurusan ganda, hanya akan melahirkan matahari kembar yang membakar habis energi dan mengkanibalisasi kader.

Sejarah telah membuktikan bahwa faksionalisme adalah awal dari keruntuhan. KAMMI terlalu berharga jika harus dikorbankan demi ego kelompok. Jika energi dihabiskan untuk konflik internal, lantas kapan waktu yang tersisa untuk memikirkan persoalan umat dan bangsa?

Dualisme adalah pengkhianatan terhadap sejarah. Ia adalah anak kandung dari ego yang merasa lebih besar dari organisasi. Ketika dua pihak mengklaim satu rumah yang sama, mereka tidak sedang berebut kunci—mereka sedang membakar rumah itu agar orang lain tidak bisa memilikinya.

Maka dari itu, melalui tulisan ini, kami harus bicara jujur bahwa:

1. Kader di daerah bukan pion yang bisa dipaksa memilih warna dalam spektrum yang sama. Menyeret kader ke dalam polarisasi adalah bentuk penindasan intelektual.

2. Setiap menit yang dihabiskan untuk merancang “dua muktamar” adalah menit yang dicuri dari hak umat dan bangsa atas pengabdian kita.

3. Kekuasaan yang diraih melalui perpecahan adalah kekuasaan yang tidak memiliki marwah. Ia akan lahir cacat dan mati dalam kehinaan sejarah.

Panggilan untuk Pulang

Milad ke-28 ini sejatinya adalah sebuah “panggilan pulang”. Pulang yang dimaksud bukanlah kembali ke masa lalu, melainkan kembali ke khitah perjuangan, yang kami tuangkan dalam 3 point penting ini:

Adab Berorganisasi: Menempatkan musyawarah sebagai panglima, bukan kepentingan pribadi.

Rekonsiliasi Hati: Menghapus sekat-sekat kubu yang selama ini menghambat gerak taktis organisasi.

Intelektualitas & Moralitas: Menegaskan kembali posisi KAMMI sebagai teladan bagi generasi muda di tengah kerasnya polarisasi sosial-politik.

Menutup Luka, Membuka Langkah Baru

Pernyataan Sikap kami Tegas:
Menolak narasi “dua kubu”, kami mengharamkan istilah “dua kepengurusan”, Organisasi ini didirikan dengan darah dan air mata persatuan, bukan untuk menjadi panggung sandiwara bagi mereka yang haus takhta.

Pilihannya hanya satu: Kembali ke khitah atau menjadi bangkai sejarah. Jangan biarkan Milad ke-28 ini menjadi nisan bagi idealisme. Pulanglah ke rumah besar yang satu, atau bersiaplah dikenang sebagai generasi yang membunuh gerakannya sendiri di tangan saudara sendiri.

Sebab, perjuangan ini terlalu mulia untuk dipertaruhkan oleh perselisihan yang remeh. Di usia 28 tahun, kado terbaik bagi KAMMI bukanlah sekadar seremoni, melainkan kembalinya seluruh elemen ke satu Slogan yakni “P-e-r-s-a-t-u-a-n”. Saatnya berbenah, saatnya menyembuhkan retak, dan saatnya melangkah sebagai satu keluarga besar yang kokoh.

Selamat Milad Kesatuan. Dari Gorontalo Untuk Indonesia

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.