Oleh : Hendra Koniyo ELHAK
Tuhan Itu Ada Dua
25 Desember (Hari Natal) Libur Nasional.
Hari Bersuka Cita Bagi Saudara-saudara Ummat Kristiani.
Disaat yang sama, Dikalangan Ummat Islam Ada Silang Pendapat Tentang Perlukah mengucapkan “Selamat Natal” ataukah tidak?
Setidaknya ada 2 Pandangan Yang Berbeda.
Ada anak Bangsa yang memilih berhati-hati Dengan menjaga lisan dari ucapan yang (dianggap) menyalahi aqidah yang ia pegang teguh.
Bukan karena benci, melainkan karena takut lisannya tergelincir.
Baginya, semoga keteguhannya menjadi wasilah surga untuknya.
Ada anak bangsa yang mengucapkan “selamat natal”.
Bukan karena menggadaikan keyakinan, melainkan karena menjaga jembatan kemanusiaan dan persaudaraan sebagai sesama anak bangsa.
Baginya yang memilih untuk mengucapan selamat natal, semoga persaudaraan kita sebagai anak Bangsa semakin Harmoni.
Aku Tak perlu menyalahkan yang memberi ucapan, sebab aku Tak Sealim para Masyaikh semisal Grand Syaikh Al Azhar Prof. Dr. Ali Jumuah atau Dr. Yusuf Al Qaradhawi yang “membolehkan Ucapan Selamat Natal”
Begitupun Dengan Mereka Yang Tak Memberi Ucapan, Aku Pun Tak Ingin Menyalahkan. Sebab siapalah aku di banding dengan Imam Ibnu Taimiyah
Syaikh Ibn Baaz, Syeikh Ibnu Utsaimin dan Para Alim lainnya yang Mengharamkan Mengucapkan Selamat Natal.
Aku dibanding Mereka Bayna Sama’ Wa “Sumur”.
Sebagai Anak Bangsa Secara Pribadi saya Ingin Mengucapkan “Selamat Bersuka Cita” Bagi Saudara, Teman, Sahabat2 Kristiani.
Berbeda, tak harus menjadi musuh dan saling cela.
Sebab tak ada yang tau, lisan yang mana yang akan menjadi lisan surga.
Juga tak ada yang tau, lisan mana yang akan menjadi lisan neraka.
Jangan remehkan hal yang kecil, entah itu kebaikan atau keburukan.
sebab bisa jadi ia besar di hadapan Tuhan.
Dari perbedaan sikap, kehati-hatian lisan, dan pilihan hati itulah, aku menarik satu renungan paling sederhana bahwa
Tuhan Itu Ada dua.
Tuhan Yang Diciptakan Manusia
Dan Tuhan Yang Menciptakan Manusia.
Maka Sembahlah Tuhan Yang Menciptakanmu
Selamat Libur Nasional..!











