Menatap Hari Guru, Dari 11 Persen Anak Muda hingga Tantangan Besar Profesi Pendidik

oleh -381 Dilihat
banner 468x60

Opini: Rifaldi Halang

Pada peringatan Hari Guru tahun ini, kita dihadapkan pada kenyataan yang tak bisa diabaikan. Media nasional baru-baru ini mengangkat isu yang cukup serius, yakni minat anak muda untuk menjadi guru terus menurun. Survei menunjukkan bahwa tren peminat profesi guru dari generasi muda berada di titik rendah, hanya sekitar 11 persen anak muda yang menyatakan tertarik memilih jalan ini.

Fenomena ini tentu mengkhawatirkan. Profesi guru yang dulu dianggap sebagai panggilan mulia kini semakin jarang dipilih oleh generasi muda. Ada banyak penyebab yang melatarbelakangi hal ini: kesejahteraan yang belum ideal, beban administrasi yang berat, hingga ketidakpastian karier, terutama bagi calon guru muda yang baru ingin memulai perjalanan mereka.

Di sisi lain, kebutuhan guru secara nasional justru meningkat akibat banyaknya guru yang memasuki usia pensiun. Distribusi guru pun tidak merata. Masih banyak daerah yang kekurangan tenaga pendidik, sementara sebagian guru mengalami kesulitan dalam mengembangkan kompetensi, terutama di era digital yang menuntut penguasaan teknologi. Kondisi ini menempatkan dunia pendidikan dalam situasi yang tidak mudah.

Beberapa pengamat juga menyebut bahwa moratorium pengangkatan guru negeri (PNS) serta dominasi skema kontrak PPPK membuat jalur karier guru terasa semakin tidak pasti. Bagi anak muda, situasi ini menjadi alarm, memilih profesi guru dinilai penuh risiko, sementara pilihan karier lain tampak lebih aman dan menjanjikan secara finansial.

Sebagai bagian dari generasi muda, saya melihat dilema ini bukan hanya sebagai masalah, tetapi sebagai panggilan. Banyak dari kami sebenarnya ingin berkontribusi lewat pendidikan. Kami ingin mendidik, membimbing, dan hadir bagi generasi penerus bangsa. Namun rasa ragu itu sering muncul, jika kami menjadi guru, apakah masa depan kami akan terjamin? Apakah jerih payah dan dedikasi akan dihargai dengan layak?

Karena itu, di Hari Guru ini, saya menyampaikan beberapa harapan kepada negara.

Pertama, pemerintah perlu memberikan kepastian jalur karier bagi guru muda, baik melalui PNS, PPPK, maupun bentuk lainnya, dengan mekanisme yang jelas, transparan, dan adil. Tidak boleh ada guru yang merasa profesinya sekadar “coba-coba” karena penuh ketidakpastian.

Kedua, tingkatkan kesejahteraan guru dengan skema yang berpihak. Tunjangan, sertifikasi, serta penghargaan atas inovasi harus diberikan secara proporsional. Guru yang sejahtera dapat fokus sepenuhnya pada kualitas mengajar, bukan pada bertahan hidup.

Ketiga, dukung pengembangan kompetensi guru melalui pelatihan profesional berjenjang, program mentoring bagi guru baru, serta fasilitas yang memungkinkan mereka menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Keempat, perkuat apresiasi sosial. Guru tidak boleh hanya disebut “pahlawan tanpa tanda jasa” tanpa ada kebijakan nyata yang melindungi mereka secara hukum dan sosial.

Dan, kelima, libatkan organisasi pemuda, kampus, dan komunitas dalam regenerasi guru. Anak muda harus didorong untuk melihat profesi guru sebagai pilihan strategis dan bermartabat.

Di tengah segala tantangan tersebut, kita juga tidak boleh lupa memberi penghargaan setinggi-tingginya kepada para guru yang telah mengabdikan diri puluhan tahun, terutama mereka yang bertugas di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar).

Mereka adalah sosok-sosok tangguh yang bekerja dalam segala keterbatasan, mulai dari fasilitas sekolah yang sangat minim, akses jalan yang sulit, sinyal internet yang hampir tidak ada, dan sering kali tinggal jauh dari keluarga. Meski begitu, mereka tetap hadir di kelas setiap hari, mengajar dengan sabar, memastikan anak-anak di daerah terpencil tidak tertinggal dari yang lain. Banyak dari mereka yang merangkap berbagai tugas, kepala sekolah, tata usaha, bahkan teknisi, karena kekurangan tenaga pendidik.

Mereka tidak viral, tidak tampil di layar televisi, dan sering tak mendapat perhatian negara. Namun berkat mereka, ribuan anak bisa membaca, menulis, dan ber cita-cita.

Untuk semua guru di Indonesia, dari sekolah berlantai keramik hingga sekolah berdinding papan dan beratap seng, saya ingin mengucapkan terima kasih. Selamat Hari Pahlawan, buat semua Guru. Kalian adalah pahlawan yang paling layak mendapatkan tanda jasa. Terima kasih karena tetap mengajar, meski keadaan tidak selalu berpihak.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.