Piala Berani Juara di Pagimana Diduga Jadi Ajang Skandal Kepentingan: Honor Panitia Dirampas, Anggaran Lenyap Tanpa Nota

oleh -455 Dilihat
banner 468x60

Narasiutama.com – Pelaksanaan Turnamen Piala Gubernur Berani Juara di Kecamatan Pagimana meninggalkan kekecewaan mendalam bagi sejumlah panitia pelaksana. Di balik kemeriahan kompetisi tersebut, mencuat isu ketimpangan pembagian honorarium serta dugaan ketidakjelasan pengelolaan anggaran kegiatan.

Sejumlah panitia yang terlibat sejak awal persiapan mengaku hanya menerima honor sebesar Rp500.000, padahal telah mencurahkan tenaga dan waktu selama satu bulan untuk mengawal jalannya kegiatan.

Kekecewaan ini makin memuncak setelah muncul kabar bahwa sebagian panitia lain justru telah menerima honor dengan nominal yang jauh lebih besar. Padahal, panitia inti yang memeras keringat sejak tahap awal perancangan acara berjumlah kurang dari 20 orang.

Dugaan ketidaktransparanan ini makin diperkuat oleh pernyataan pimpinan panitia yang terkesan berubah-ubah saat rapat evaluasi internal pasca-kegiatan:

Pada rapat Pertama, Ketua Panitia menyatakan bahwa pencairan honor masih menunggu dana masuk dari Palu. Sementara rapat kedua, alasan bergeser, di mana Ketua Panitia menyampaikan bahwa pembayaran honorarium masih menunggu hasil penjualan tiket/karcis VIP.

Berdasarkan keterangan dari salah satu narasumber yang tidak ingin disebutkan identitasnya, terdapat perbedaan angka pencatatan hasil penjualan tiket pada laga final/penutupan.

“Ketua Panitia mengklaim pendapatan dari penjualan karcis hanya mencapai sekitar Rp58 juta. Namun, bukti penghitungan fisik karcis yang terkumpul memperlihatkan angka pendapatan mencapai sekitar Rp71 juta,” ungkapnya.

Kejanggalan lain yang disuarakan panitia adalah munculnya jenis karcis tak terduga di lapangan. Panitia pada dasarnya hanya mengetahui pencetakan karcis putih sebanyak kurang lebih 3.500 lembar.

Namun pada pelaksanaannya, mendadak beredar karcis kuning dan jenis karcis baru yang tidak diketahui asal-usul pengadaannya.

Hingga saat ini, sisa saldo anggaran kegiatan dilaporkan hanya menyisakan angka Rp12.000. Sementara Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) yang dibuat Ketua Panitia tidak melampirkan nota beserta cap, dan bukti-bukti pembelian.

Padahal anggaran awal kegiatan telah terkumpul sekitar Rp160 juta yang bersumber dari bantuan Gubernur dan pihak sponsor. Namun, semuanya nihil, hilang seketika tanpa bukti, tanpa nota yang jelas masuk-keluar uang tersebut.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.