Ruang Terang yang Tak Aman

oleh -77 Dilihat
banner 468x60

*Oleh: Rifaldi Halang*

Di momen Hari Kartini, saya merasa perlu mengambil peran melalui tulisan, tentang satu peristiwa yang beberapa waktu terakhir begitu membekas dalam ingatan saya.

Tentang Kartini, kita selalu mengaitkannya dengan cahaya. Lengkapnya, “dari gelap menuju terang.” Namun dalam tulisan ini, saya ingin memaknai terang dengan cara yang berbeda. Bukan lagi sebagai sesuatu yang menyinari, tetapi justru sesuatu yang bisa menakutkan. Itulah refleksi yang ingin saya bagikan.

Beberapa waktu lalu, saya menyaksikan sendiri sebuah kejadian yang sulit saya lupakan. Sebuah ironi tentang ruang aman bagi perempuan terjadi begitu dekat. Kejadian itu berlangsung di bulan Ramadan, pada siang hari, tepat di hari Jumat, waktu yang seharusnya sarat dengan nilai kesucian dan penghormatan. Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Yang lebih mengiris, perempuan yang menjadi korban menggunakan cadar, yang kita menganggapnya sebagai simbol kehormatan dan penjagaan diri.

Peristiwa itu membuka mata saya, bahwa pelecehan tidak lagi terjadi di ruang-ruang gelap dan sunyi. Ia kini hadir di ruang yang terang benderang, bahkan di hadapan banyak orang, di ruang sosial yang seharusnya aman. Ini bukan sekadar tindakan individu, tetapi tanda bahwa ada yang salah dalam cara sebagian kita memandang dan memperlakukan perempuan.

Sebagai seorang pria, saya merasa perlu jujur, ini bukan sekadar “masalah perempuan.” Ini adalah cermin bagi kita semua, terutama laki-laki. Di tengah kemajuan zaman, masih ada cara pandang yang merendahkan perempuan, memposisikan mereka sebagai objek, bukan sebagai manusia utuh yang harus dihormati.

Bagi saya, pelecehan seksual bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga kegagalan moral kita sebagai masyarakat. Ini menunjukkan bahwa penghormatan terhadap perempuan belum benar-benar menjadi kesadaran bersama.

Karena itu, keteguhan perempuan di ruang sosial harus diperkuat. Perempuan berhak hadir, berpendapat, bekerja, belajar, dan bergerak dengan aman dan terhormat. Keteguhan itu tidak hanya lahir dari keberanian pribadi mereka, tetapi juga dari dukungan lingkungan yang sehat dan adil.

Di sisi lain, laki-laki harus mengambil tanggung jawab dalam perjuangan ini. Menghormati perempuan berarti menjaga sikap, melawan candaan yang merendahkan, menegur perilaku yang melecehkan, dan berani menciptakan ruang sosial yang aman. Sebab menjaga martabat perempuan bukan hanya tugas perempuan, tetapi tugas seluruh masyarakat, terutama kita, sesama laki-laki.

Sebagai sesama laki-laki, saya mengajak, mari kita menjaga diri. Kalau tidak bisa menjadi pelindung, setidaknya jangan menjadi ancaman. Jadilah pribadi yang mampu menahan diri, menghormati batas, dan memuliakan perempuan dalam sikap maupun pandangan. Jangan merasa cukup hanya karena tidak melakukan, pastikan kita juga berani mencegah dan melawan.

Untuk teman-teman perempuan, tetaplah teguh dan berani. Dunia memang belum sepenuhnya aman, tetapi suara dan keberanianmu adalah bagian penting dari penjagaan. Jangan biarkan rasa takut merampas hakmu untuk hidup, tumbuh, dan berkarya. Kamu berhak atas rasa aman, dan kamu berhak dihormati.

Hari Kartini bagi saya bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga mengoreksi masa kini. Jika perempuan hari ini masih merasa takut di ruang sosial, maka kita belum sepenuhnya memahami apa yang diperjuangkan R.A. Kartini.

Apalagi negeri ini juga dibangun oleh banyak perempuan tangguh, para pahlawan perempuan yang dengan keberanian dan pengorbanannya menjaga martabat bangsa. Mereka menunjukkan bahwa perempuan bukan sosok lemah, melainkan pribadi kuat yang mampu menjadi cahaya bagi bangsanya.

Sudah saatnya kita benar-benar menghadirkan dunia yang aman, setara, dan bermartabat, bagi semua.

Semoga terang itu tidak benar-benar hilang.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.