Fitrah yang Memanggil Pulang, “Refleksi tentang LGBT dan Kemanusiaan”

oleh -583 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Rifaldi Halang, S.Sos.
Aktivis Sosial dan Kader Dakwah

GORONTALO – Beberapa waktu terakhir, perbincangan mengenai LGBT kembali menjadi perhatian publik di Gorontalo. Sebagai seseorang yang mempelajari sosiologi, saya memahami bahwa setiap fenomena sosial tidak lahir dari ruang kosong. Di balik setiap identitas, pilihan hidup, atau ekspresi diri manusia, selalu ada cerita, pengalaman, lingkungan, pergulatan batin, dan dinamika sosial yang membentuknya.

Karena itu, ketika berbicara tentang LGBT, saya memilih untuk memulainya dari satu titik yang paling mendasar: kita semua adalah manusia.

Sebagai sesama manusia, tidak ada alasan untuk membenci, merendahkan, mengolok-olok, atau memperlakukan siapa pun secara tidak bermartabat. Setiap orang berhak dihormati sebagai manusia. Sebab kemanusiaan tidak boleh hilang hanya karena perbedaan pandangan, keyakinan, maupun pilihan hidup.

Namun pada saat yang sama, menghormati seseorang tidak berarti kita harus menyetujui semua hal yang dilakukannya. Dalam kehidupan sosial, perbedaan pandangan adalah sesuatu yang wajar. Dan sebagai seorang insan yang lahir serta tumbuh dalam nilai-nilai agama, apalagi hidup dalam budaya di daerah yang menjunjung filosofi hidup “Aadati hula-hula to Sara’, Sara’ hula-hula to Kuru’ani”, atau adat bersendikan syariat, dan syariat bersendikan Al-Qur’an, saya meyakini bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan oleh Tuhan dengan fitrah masing-masing.

Khusus kepada saudara-saudaraku yang laki-laki namun berusaha menyerupai perempuan, atau perempuan yang berusaha menyerupai laki-laki, izinkan saya menyampaikan beberapa kalimat dari hati ke hati.

Saya tidak datang untuk menghakimi. Saya juga tidak datang untuk menghitung dosa orang lain. Sebab saya sadar, setiap manusia memiliki perjuangan dan ujian hidupnya masing-masing. Mungkin hidup tidak selalu mudah. Mungkin ada pergulatan yang tidak dipahami oleh banyak orang. Mungkin ada luka yang tidak pernah terlihat oleh mata orang lain. Akan tetapi, sebagai sesama manusia yang sama-sama menginginkan kebaikan, saya merasa perlu mengajak kita semua untuk merenungkan kembali tentang fitrah yang telah Tuhan anugerahkan.

Tuhan tidak menciptakan manusia tanpa tujuan. Ketika seorang anak lahir sebagai laki-laki, atau lahir sebagai perempuan, itu bukanlah sebuah kebetulan. Di dalamnya terdapat hikmah, amanah, serta peran yang telah disiapkan oleh Sang Pencipta.

Mungkin dunia hari ini sering mengatakan bahwa identitas adalah sesuatu yang dapat dibentuk sesuka hati. Namun bagi orang-orang yang meyakini keberadaan Tuhan, identitas bukan semata-mata tentang apa yang kita rasakan, melainkan juga tentang apa yang telah ditetapkan oleh-Nya.

Menjadi laki-laki bukan hanya soal fisik. Begitupun, menjadi perempuan pun bukan sekadar persoalan biologis. Keduanya diciptakan berbeda, bukan untuk saling merendahkan, melainkan untuk saling melengkapi.

Saya percaya bahwa jauh di dalam hati setiap manusia, selalu ada suara kecil yang mengingatkan tentang siapa dirinya. Suara itu mungkin tertutup oleh lingkungan, pergaulan, tren zaman, atau pengalaman hidup yang berat. Namun suara fitrah itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia selalu menunggu untuk didengar kembali.

Kepada saudara-saudaraku yang sedang berada dalam pergulatan tersebut, jangan pernah merasa bahwa ajakan untuk kembali kepada fitrah adalah bentuk kebencian. Justru sebaliknya. Ajakan itu lahir karena kepedulian.

Sebagaimana seorang sahabat akan mengingatkan sahabatnya ketika melihatnya berada di jalan yang menurutnya keliru, demikian pula kita saling mengingatkan karena rasa cinta sebagai sesama manusia.

Tidak ada manusia yang sempurna. Tidak ada manusia yang bebas dari kesalahan. Kita semua sedang belajar menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin. Karena itu, tidak ada ruang untuk kesombongan dalam ajakan ini.

Yang ada hanyalah harapan. Harapan agar laki-laki kembali bangga menjadi laki-laki sebagaimana Tuhan menciptakannya. Harapan agar perempuan kembali bangga menjadi perempuan sebagaimana Tuhan memuliakannya. Harapan agar kita tidak terjebak dalam kebingungan identitas yang membuat kita semakin jauh dari diri kita sendiri. Dan harapan agar masyarakat mampu menyampaikan nilai-nilai yang diyakininya dengan cara yang santun, penuh kasih sayang, dan tetap menghormati martabat setiap manusia.

Bagi saya, fitrah bukanlah penjara yang membatasi manusia. Fitrah adalah kompas yang membantu manusia menemukan arah pulang. Dan tidak ada perjalanan yang lebih indah daripada perjalanan kembali kepada jati diri yang telah Tuhan tetapkan sejak awal penciptaan kita.

Ajakan ini bukan untuk menghakimi. Bukan pula untuk merasa lebih suci dari siapa pun. Sebab setiap manusia memiliki ujian yang berbeda-beda. Ada yang diuji oleh kekuasaan, ada yang diuji oleh harta, ada yang diuji oleh hawa nafsu, dan ada pula yang diuji oleh pergulatan identitas dirinya. Kita semua sedang berjuang dalam medan ujian masing-masing.

Sebagai masyarakat Gorontalo yang menjunjung tinggi nilai agama dan budaya, saya berharap kita mampu menghadapi fenomena ini dengan dua sikap sekaligus, yakni ketegasan dalam memegang prinsip dan kelembutan dalam memperlakukan manusia.

Jangan sampai atas nama agama kita kehilangan kasih sayang. Tetapi jangan pula atas nama toleransi kita kehilangan keyakinan. Mari kita menjadi masyarakat yang mampu merangkul tanpa harus membenarkan, mengingatkan tanpa merendahkan, dan berdialog tanpa saling membenci.

Karena tujuan kita bukan memenangkan perdebatan, melainkan menghadirkan kebaikan. Dan kebaikan yang sejati selalu lahir dari hati yang jernih, lisan yang santun, serta keberanian untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang penuh hikmah.

Semoga kita semua senantiasa diberikan petunjuk untuk memahami diri kita, menerima fitrah yang telah Tuhan tetapkan, dan menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab sebagai manusia yang beriman dan beradab.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.